Menembus Batas (si Buta dari Bekasi)

Pernahkah sobat mengenal seseorang  bernama Eko Ramaditya Adikara? kalau sobat pernah mengenal nama Eko Ramaditya Adikara yang saya maksud, pasti sobat adalah orang yang penuh semangat dalam menjalani hidup. Lho kenapa..?
kok bisa..? biar ga penasaran baca aja uraian berikut:





Satu pertanyaan membuka uraian..:-) 
Apakah sobat pernah mendengar/ tau Smash Mario Galaxi..??
Smash Mario Galaxi adalah game komputer (Game Online) produksi NINTENDO Corp.
Siapa yang menyangka, game yang sangat terkenal itu ternyata komposer musiknya adalah orang Indonesia yang tinggal di komplek perumahan Jati Agung 1, Jatibening Bekasi, Jawa Barat. Dia adalah si manusia super bernama Eko Ramaditya Adikara.

Ada apa dengan Ramaditya sehingga saya menyebutnya manusia super..???

Karena saat pertama kali saya bertemu dengannya, dia membuat saya menangis dan malu pada diri saya sendiri, dia membuat saya malu kepada Allah SWT Tuhan saya.

Lho... kenapa...?? kok bisa sampai segitunya...??
Karena Ramaditya adalah seorang komposer musik game NINTENDO Corp....
Karena Ramaditya dipercaya oleh detik.com (detik dot com) sebagai wartawan bidang game dan internet.....
Karena Ramaditya adalah seorang Bloger (ramaditya.com)
Karena Ramaditya adalah seorang yang ahli komputer, mengerti instalasi Laptop, ahli internet dan mahir berbahasa Inggris.....
Karena Ramaditya adalah seorang pembicara (Aktivis ESQ) dengan jam terbang yang sangat padat... saking sibuknya dia harus menggaji seorang manajer bernama Mba’ Eci untuk mengatur jadwalnya.............
Sudah pasti Ramaditya menghasilkan duit yang banyak dari kegiatan-kegiatannya itu.......
Tetapi yang paling membuat saya malu dan menangis di hadapan Allah SWT adalah karena Ramaditya adalah seorang TUNA NETRA.....

Yup....

Ramaditya, tuna netra dari Bekasi itu adalah komposer musik game Smash Mario Galaxi produksi NINTENDO Corp.
Anehnya lagi adalah, pihak Nintendo tak pernah tahu kalau yang menciptakan komposer musik untuk game produksi mereka seorang tuna netra, karena transaksi dan kontrak kerja sama dilakukan melalui internet alias tidak pernah bertatap muka secara langsung.
*******

Walaupun takdir mengatakan bahwa ia tidak bisa melihat (buta) sejak pertama kali ia menghirup udara di muka bumi ini, namun Ramaditya berhasil menjadi seperti yang disebutkan di atas. Ramaditya berhasil menembus batas kekurangan fisiknya.
Subhanallah... Allahu Akbar...


Malam itu (1 Juni 2010) di Pesantren Yatamma Azzikra (Asuhan Ust. M. Arifin Ilham), Ramaditya tampil memberikan tausiyah di hadapan hampir seribu jamaah yang hadir, termasuk saya tentunya.
Malam itu Ramaditya mengawali tausiyah dengan memperkenalkan dirinya.
Ramaditya dilahirkan di Semarang Jawa tengah, pada tanggal 3 Februari 1981, dan di hari itu juga ia harus menerima “Vonis” tidak bisa melihat alias buta dari dokter yang menangani kelahirannya. Beberapa tahun setelah kelahirannya Ramaditya dibawa oleh orang tuanya hijrah ke Bekasi Jawa Barat, kemudian Ramaditya di sekolahkan di SLB golongan A di daerah Lebak Bulus Jakarta Selatan.
Setelah memperkenalkan dirinya, Ramaditya membuka rahasia kesuksesannya. Ramaditya menyebutkan bahwa kunci suksesnya adalah berangkat dari firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 7 “Jika kamu pandai Bersyukur, maka pasti nikmat-Ku akan bertambah. Jika kamu kufur (ingkar), maka azab-Ku sangatlah pedih”.
Karena rasa syukur itulah kedua orang tuanya tidak membuangnya saat mengetahui anaknya buta.
Meskipun dia buta, namun Ramaditya tidak mengingkari nikmat Allah yang begitu besar terhadap dirinya.

“Mata boleh buta, tapi anggota tubuh yang lain yang normal harus tetap disyukuri dan dioptimalkan untuk berjuang meraih ridha Allah SWT”. Begitu katanya.
Karena rasa syukur itu pula Ramaditya terus belajar dan tidak pernah minder, sehingga ia mampu menembus batas kekurangan fisiknya melebihi orang-orang yang normal.
Di antara kelebihan-kelebihannya adalah:
Dengan bantuan alat yang disebut screen reader ia mampu mengoperasikan komputer, ia  tahu isi sms yang masuk ke ponselnya dan bisa membalasnya.
Dia juga mampu mengetik dengan sangat cepat, dan itu terbukti saat ia mempraktekan kebolehannya malam itu. Satu paragraf yang diketiknya begitu cepat dan tanpa ada kata-kata yang salah satupun. Subhanallah....
*******

Di akhir tausiyahnya Ramaditya mengajak semua jama’ah bermuhasabah diri.
“Saudaraku, ayahanda, ibunda jama’ah yang dimulyakan Allah. Saya minta semua kita yang hadir di majelis ini untuk memejamkan mata. Saat mata anda terpejam, apa yang anda lihat..? tidak ada.... anda hanya bisa mendengar....”
“Ayahanda, Ibunda Ikwah fillah. saat ini, saat mata anda dipejamkan, saat anda tidak bisa melihat apa-apa, maka Saya telah merasakan hal itu sejak saya dilahirkan sampai saat ini. Saya tidak pernah tahu seperti apa wajah saya, saya belum pernah melihat wajah orang tua saya dan wajah saudara-saudara saya. Tapi apakah saya mengeluh dengan semua itu..?? Jawabannya adalah TIDAK... Saya mensyukurinya dan saya terus belajar dan belajar, saya mencintai diri saya sehingga saya bisa menjadi seperti sekarang ini”.


“Ayahanda, Ibunda, Jama’ah yang dimulyakan Allah. Apakah anda telah mensyukuri nikmat penglihatan yang diberikan Allah pada anda. Pernahkah anda menghitung, berapa jam dalam sehari mata yang indah itu anda gunakan untuk melihat dan membaca Al-Quran..??? apakah anda juga pernah menghitung, berapa kali nikmat penglihatan itu anda pakai berzina mata..???”
“Saudaraku, jama’ah yang dimulyakan Allah. Pernahkah anda membayangkan, jika seandainya Allah mengambil kembali mata yang indah itu dari anda..?? pernahkah anda membayangkan seandainya Allah tidak pernah mempercayakan mata indah itu pada anda seperti yang saya alami..??? pernahkah anda membayangkan seperti apa anda sekarang, jika mata indah itu tidak bersama anda..? pernahkah anda membayangkan dimana anda tidak bisa melihat wajah anda sendiri di cermin..?”
“Saudaraku, hadirin rahimmakumullah. Nikmat Allah begitu besar, berhentilah mengeluh dan belajarlah bersyukur. Jangan pernah menyerah menghadapi hidup ini, jika saya yang buta ini saja bisa seperti ini, apalah lagi anda yang bisa melihat. Keberhasilan dan kegagalan dalam hidup ini tidak ditentukan oleh keadaan fisik anda, tidak juga oleh orang tua anda, bahkan tidak juga Allah, karena Allah telah memberikan kebebasan kepada kita. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah nasib mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11). Kegagalan dan keberhasilan itu anda yang menentukan, kalau anda mencintai diri anda maka belajarlah lebih rajin, berjuanglah lebih keras dan berhentilah mengeluh, syukurilah nikmat Allah yang tak terhitung ini....”


Kata-kata yang dilontarkan oleh Ramaditya dalam muhasabah itu begitu menyihir kami para jama’ah, sehingga tak terasa air mata kami meleleh mengalir deras membasahi pipi, tak kuasa kami menahan buliran-buliran bening itu melompat keluar di antara kedua kelopak mata kami.
Saya sendiri merasa sangat lemah, begitu hinanya saya di hadapan Allah SWT, saya telah diberi tubuh yang sempurna masih saja mengeluh dan mengeluh, bahkan saya jauh ketinggalan dari Ramaditya yang nota bene adalah seorang yang buta.
Saya sangat takut kalau-kalau saya ini termasuk ke dalam golongan seperti yang dikatakan Allah dalam Al-Quran surat Al-Hajj ayat:46 ”Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”.
Ampuni hamba yang naif dan hina ini ya Allah.....
 

Ramaditya kemudian memutarkan video untuk kami, dalam video itu diperlihatkan bagaimana orang-orang yang mempunyai keterbatasan mampu meraih juara dalam sebuah olympiade, mereka adalah orang-orang yang berhasil menembus batas.
Dalam video itu diperlihatkan orang autis yang juara lari, ada juga orang yang mempunyai satu kaki tapi dia juara lompat tinggi dan lompat jauh, ada juga orang yang tidak punya kaki sama sekali malah juara renang di olympiade.. subhanallah....
Mengiringi video yang kami saksikan, Ramaditya menuturkan kata-kata motivasi untuk kami:
 “Lihat... wahai ikhwah, lihat wahai saudaraku, lihatlah mereka yang ada dalam video ini, mereka adalah kaumku, kaum penyandang cacat, tapi mereka selalu berkata TIDAK pada keputus asaan, mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mengeluh dengan kekurangan yang ada pada mereka, mereka adalah orang-orang yang bersyukur”.
Menyaksikan video dan mendengar penuturan Ramaditya itu, air mata para Jama’ah kembali tumpah, bahkan ada yang menangis tersedu-sedu.
*******

Ya Allah Rabbul Izzati.......
Puja dan puji syukur hanya milik Engkau, yang telah membuka mata hati kami......
Engkau kirimkan kami seorang hamba-Mu yang membuat kami tahu cara bersyukur.....
Maka kami mohon keselamatan kepada-Mu ya Allah untuk kami dan untuk Ramaditya....
Bahagiakan kami di dunia ini, bahagiakan kami di Akirat nanti...........
Kumpulkan kami di akhirat nanti dalam surga-Mu ya Allah......
Ridhai hidup kami, berkahi hidup kami, bimbinglah kami agar selalu berada di jalan-Mu ya Allah....
*******



Semoga bermanfaat
Salam cinta secinta-cintanya


(^_^)
SYAIFUL PUTRA
www.ipulstory.blogspot.com



Baca Juga Artikel Berikut:

1 komentar:

Chandra  mengatakan...

sip... sekedar blog walking nih, kunjung balik ya... komen+follow saya tunggu.

http://www.ch4ndr4.com

Posting Komentar

Coment's box (No spam, No Porn)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by IPUL